Minggu, 25 September 2011

Ini Dia Kode Gigolo Untuk Memberi Tahu Para Tante Girang

Sesama komunitas gigolo di wilayah Kebayoran, Jakarta, ada kode-kode tertentu yang disepakati saat menjalani profesi.


Misalnya di pusat perbelanjaan ternama di kawasan Blok M, pada akhir tahun 80-an, para gigolo memiliki ciri tertentu untuk memberi tahu para mangsanya, tante-tante girang.

Para gigilo biasanya menggulung sebuah koran lalu mengapitnya di salah satu ketiak. Sembari meminum kopi atau berjalan-jalan, gulungan koran itu selalu terapit di ketiak sang gigolo.

"Tante-tante girang sudah tahu kode itu, begitu dia lihat langsung mendekat ke kami lalu menanyakan 'panjang nggak?'. Nah kita jawab 'panjang tante'," ujar seorang gigolo senior.

Kode mengapit gulungan koran di ketiak ini berlangsung hingga pertengahan tahun 90-an. Kemudian dikarenakan mulai terendus masyarakat, kode itu berubah dengan menggunakan media rokok.

Para gigolo di kawasan itu, tidak lagi mengapit gulungan koran melainkan memegang batang rokok tanpa dinyalakan. "Jadi kita bergaya seperti merokok saja, tapi rokok tidak kita bakar, cuma dipegang saja."

Kemudian, para tante girang yang sudah mengetahui kode itu dengan sendirinya mendekat dan bertanya, "Rokoknya nyala ga? Kita jawab 'nyala tante', itu artinya kita lagi kosong bisa terima order," urainya.

Kode memegang rokok diyakini masih bertahan hingga saat ini. Namun menurutnya di beberapa daerah kode rokok tidak digunakan lagi, diganti dengan kode lain yang tidak diketahuinya. [forumjualbeli.net]

Foto Artis Bom SEX Hollywood Dulu dan Sekarang


 

 

 


Read More: http://www.unikaja.com/2010/07/foto-artis-bom-sex-hollywood-dulu-dan.html#ixzz1YvegBptW

Telur Ayam Terkecil Dunia, Tingginya Hanya 2,5 cm

Seorang lelaki asal West Virginia mengklaim telah menemukan telur ayam terkecil dunia. Besarnya tidak lebih besar dari uang logam satu sen.

Donnie Russell, nama lelaki tersebut, baru sebulan lalu menemukan telur ayam terkecil dunia itu di ladangnya. Panjangnya hanya sekitar 2,1 cm atau sedikit lebih besar dari uang logam satu sen. Sementara, beratnya hanya 3,46 gram.
"Ini benar-benar sesuatu. Jika Anda ingin mengetahui kebenarannya, aku tidak bisa menjelaskannya dalam kata-kata, " kata Russell.

Russell mengatakan bahwa istrinya adalah seorang penyayang binatang. Sang istri mengumpulkan kucing, angsa, bebek, ayam dan jenis lainnya dari unggas selama bertahun-tahun.

Telur ayamnya biasanya disumbangkan untuk orang-orang dari Rock Creek Community Church di mana Russell adalah pendetanya.

‘’Kami pergi keluar dan mengumpulkan telur ini. Kami harus melakukannya sampai dua kali,’’ kata Russell. ‘’Kami berdua saling memandang dengan mulut terbuka selama sekitar lima menit sebelum kami mengeluarkan kata. Kami mengatakan ini harus menjadi catatan. "

Departemen Pertanian telah mensertifikasi ukuran telur temuan Russell tersebut. Guinness World Records mencantumkan telur ayam terkecil berukuran 2,7 cm. Meskipun, seorang pria dari Inggris pada Mei lalu mengklaim memiliki telur dengan ukuran 2 milimeter lebih kecil.

Russell mengaku masih ragu-ragu untuk membuat aplikasi dengan Guinness. Dia berencana melestarikan telur yang diberi nama John Spencer Russell telur tersebut. Nama tersebut untuk menghormati dua cucunya yang bernama John Kenny Russell dan Russell Matius Spencer.(dailymail.co.uk)

Read More: http://www.unikaja.com/2011/08/telur-ayam-terkecil-dunia-tingginya.html#ixzz1YvdpTZ00

Pemeran/Pengisi Suara "Unyil" Pertama Kali dan Seperti Apa Beliau Kini


BERBEDA dari Suyadi ”Pak Raden” atau Abdul ”Pak Ogah” Hamid yang sampai sekarang masih lekat dengan sosok yang diperankan dalam film Si Unyil, Bambang Utoyo justru sebaliknya. Padahal, perannya jauh lebih penting daripada keduanya. Bahkan, dia pemeran utamanya. Sebab, Utoyo-lah yang mengisi suara Unyil untuk kali pertama.

Penampilannya sekarang memang sudah berubah. ”Kan waktu mengisi suara Unyil, saya masih umur sepuluh tahun,” kata Utoyo saat ditemui di rumahnya di kompleks Delta Pekayon Jaya, Bekasi. Utoyo pada 20 Juni nanti akan genap 40 tahun.

Pria kelahiran Jakarta itu menjelaskan, dirinya hanya mengisi suara Unyil hingga kelas II SMP. Sebab, ketika itu dia mengalami perubahan suara karena bertambah dewasa. ”Jadi, sudah bukan kayak anak kecil lagi,” ujar Utoyo. Meski demikian, Utoyo masih mengikuti road show Si Unyil hingga dia kelas II SMA.

Alhasil, banyak orang yang tidak mengenalinya, kecuali dia telah menyebutkan sebagai pengisi suara Unyil. Seperti saat Aditya Gumay, pengasuh Sanggar Ananda, terperangah ketika mengetahui bahwa Utoyo yang ada di depannya adalah Unyil. ”Kebetulan, anak saya yang pertama ikut di Sanggar Ananda,” kata suami Nunung Nurhayati itu.

Aktivitas Utoyo saat ini juga jauh dari peran Unyil. Ayah dua anak tersebut bekerja di bagian purchasing sebuah stasiun televisi swasta yang berkantor di kawasan Senayan City. Baru sebulan ini Utoyo bergelut dengan pekerjaan itu. Sebelumnya, dia sempat bertugas di bagian administrasi program dan quality program di stasiun televisi yang sama.

Lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) itu menyatakan, keterlibatannya dalam Si Unyil terjadi karena faktor ayahnya yang kenal dengan Kurnain, pengarang cerita Si Unyil. Sebelum terlibat di Si Unyil, Utoyo sudah ikut dalam film dokumenter tentang gunung meletus di Dieng pada 1978. ”Pulang dari sana, langsung ikut mengisi suara Unyil tanpa casting,” kenangnya lantas menyebut bahwa bayarannya sehari adalah Rp 10 ribu.

Proses dubbing dijalaninya setiap pulang sekolah di SDN Cipinang Cempedak 02. Tak pelak, Utoyo pun mendapatkan panggilan Utoyo Unyil. Tugasnya kemudian digantikan Rivaldi saat dia menginjak kelas II SMP. Namun, pergantian itu tak menamatkan karirnya dalam Si Unyil. Dia mendapatkan peran baru untuk mengisi suara Ujang, sepupu Unyil. ”Mungkin sebagai ucapan terima kasih, diadakan tokoh itu. Tapi, dia jarang muncul,” ungkapnya.

Namanya juga masih anak-anak, pekerjaan yang dijalani saat masih SD tersebut tidak menjadi beban, malah itu ditunggu-tunggu. Namun, bukan proses dubbing yang mereka nanti, melainkan saat mereka jeda istirahat. ”Kami main-main di belakang gedung PPFN (PusatProduksi Film Negara, Red), main layang-layang dan memanjat pohon jambu,” cerita Utoyo tentang masa kecilnya. Bayaran yang diterima pun sepenuhnya diserahkan kepada orang tuanya.

Saat rombongan Si Unyil harus memenuhi undangan untuk road show ke daerah-daerah, Utoyo juga turut serta. Baju Unyil warna oranye, sarung yang diselempangkan, plus peci hitam menjadi atribut tetapnya. ”Baju dan sarungnya masih saya simpan. Itu benda bersejarah,” katanya. Dia menyatakan menikmati saat-saat road show karena bisa berkeliling ke seluruh Indonesia. Hanya Sulawesi, Irian (kini Papua), Bali, dan Aceh daerah yang belum pernah disinggahinya.

Selain itu, Utoyo harus mempertahankan rambutnya agar tetap gondrong. Hal tersebut sempat ditentang kepala SMP 62, tempatnya bersekolah. ”Kepala sekolahnya nggak mau tahu, pokoknya harus potong rambut,” urai Utoyo. Akhirnya, melalui surat resmi dari PPFN, Utoyo mendapatkan dispensasi untuk tetap berambut gondrong.

Utoyo memberikan apresiasi karena masih ada pihak yang mau menayangkan program Si Unyil di masa sekarang. Namun, dia mengharapkan, penayangan itu tidak mengubah karakter asli tokoh- tokohnya. ”Kalau mau di-produce lagi, harus sesuai dengan aslinya. Jangan dicampur dengan yang lain,” tuturnya.

source : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6257490

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Visitors

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktops